Antagonis Reseptor Histamin H-2
Histamin adalah amin
nabati (bioamin) yang dibentuk dari histidin oleh histidine melalui dekarboksilase
enzimatis. Asam amino ini masuk ke dalam tubuh terutama ke dalam daging atau
protein yang kemudian di jaringan diubah secara enzimatis menjadi histamin.
Histamin hampir terdapat di semua organ dan jaringan yang dalam keadaan terikat
dan inaktif. Dalam keadaan bebas dan aktif juga terdapat di darah dan otak,
dimana histamin bekerja sebagai neurotransmitter. Dalam keadaan
normal kadar histamin dalam darah hanya k.l. 50mcg/l, sehingga tidak
menimbulkan efek.
Obat anti
alergi disebut juga Antihistamin (antagonis histamin) adalah zat yang dapat
mengurangi atau menghalangi efek histamin terhadap tubuh dengan jalan memblokir
reseptor histamin. Histamin memiliki peranan yang penting dalam patofisiologi
penyakit alergi. Istilah antihistamin dapat digunakan untuk menjelaskan
antagonis histamin manapun, Terdapat empat tipe reseptor histamin, yaitu
H1, H2, H3, dan H4 yang keempatnya memiliki fungsi dan distribusi yang berbeda.
Dalam penggunaanya antihistamin H-2 pada penyakit alergi sangat terbatas.
Mekanisme Kerja
Reseptor H2
ditemukan pada sel parietal mukosa lambung, otot polos, epitelium, endotelium,
dan jantung. Histamin dapat meningkatkan sekresi asam lambung oleh sel parietal
melalui reseptor H-2, bergabung dengan protein G mengaktifka adenil siklase
menghasilkan AMP siklik. Dengan demikian antagonis reseptor H-2 (antihistamin
H-2) dapat digunakan untuk mengurangi sekresi asam lambung, serta dapat
pula digunakan untuk menangani peptic culer dan penyakit refluks
gastroesofagus.
Efek Samping
Antihistamin
H-2 lebih jarang menimbulkan efek samping, namun dilaporkan femotidin
menimbulkan konstipasi, diare, dan gejala susunan saraf pusat yang ringan.
Tidak memiliki efek samping antiandrogen atau gangguan endokrin serta sedikit
sekali pengaruhnya terhadap hati.
Pertimbangan Klinis
Faktor yang harus diperhatikan dalam farmakologi klinis
antagonis H2, yaitu:
- Simetidin
itu dikaitkan dengan lebih banyak efek samping dan interaksi obat
dibandingkan dengan antagonis H2 yang lebih baru, seperti ranitidin.
- Antagonis
H2 tersebut memiliki onset kerja yang lebih cepat dibandingkan dengan
inhibitor pompa proton. Ini mungkin berguna jika penekanan asam yang
relatif segera dicari – misalnya, sebelum operasi untuk mencegah aspirasi
asam ke saluran pernapasan.
- Antagonis
H2 itu dapat menutupi gejala kanker lambung. Pasien harus dimonitor untuk
gejala serius seperti kesulitan menelan dan penurunan berat badan.
- Karena
farmakokinetik simetidin, meningkatkan risiko toksisitas bila diminum
dengan obat-obatan seperti warfarin, fenitoin, kuinidin, TCA dan
propranolol.
- Dengan
meningkatkan pH lambung, antagonis H2 dapat meningkatkan risiko
mengembangkan kolitis Clostridium difficile.
- Antagonis
reseptor H2 diklasifikasikan sebagai kategori kehamilan B- yang berarti
bahwa “tidak ada risiko dalam penelitian non-manusia”.
Sumber:
- Faramakologi
Obat Antagonis Reseptor
H2 https://gudangilmu.farmasetika.com/farmakologi-obat-antagonis-reseptor-h2/
- Soegijanto,
S. 2016. Kumpulan Makalah Penyakit Tropis dan Infeksi Di Indonesia,
Jilid 3, Airlangga University Press, Surabaya.
- Tjay,
T.H. dan K. Rahardja.2007. Obat-Obat Penting: Khasiat, Penggunaan,
dan Efek-efek Sampingnya, Edisi 6, PT Elex Media Komputindo, Jakarta.
- Zein,
U. dan E.E. Newi. 2019. Buku Ajar Ilmu Kesehatan ,Deepublish,
Sleman.

Idak salah lagi, ini lah yang dicari-cari
BalasHapusMantappp
terimakasih info nyaa bermanfaat sekali
BalasHapusTerima kasih materinya, sangat menambah wawasan
BalasHapusArtikelnya menarik dan sangat membantu, terima kasih yaa
BalasHapusterimakasih artikelnya menarik dan menambah wawasan
BalasHapusTerimakasih banyak atas ilmunya, artikelnya sangat bermanfaat 🙏🏻
BalasHapusBlognya sungguh bermanfaat hyung
BalasHapusSangat bermanfaat om, lanjutkan
BalasHapus