Minggu, 29 November 2020

 


Antagonis Reseptor Histamin H-2

        Histamin adalah amin nabati (bioamin) yang dibentuk dari histidin oleh histidine melalui dekarboksilase enzimatis. Asam amino ini masuk ke dalam tubuh terutama ke dalam daging atau protein yang kemudian di jaringan diubah secara enzimatis menjadi histamin. Histamin hampir terdapat di semua organ dan jaringan yang dalam keadaan terikat dan inaktif. Dalam keadaan bebas dan aktif juga terdapat di darah dan otak, dimana histamin bekerja sebagai neurotransmitter. Dalam keadaan normal kadar histamin dalam darah hanya k.l. 50mcg/l, sehingga tidak menimbulkan efek.

          Obat anti alergi disebut juga Antihistamin (antagonis histamin) adalah zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek histamin terhadap tubuh dengan jalan memblokir reseptor histamin. Histamin memiliki peranan yang penting dalam patofisiologi penyakit alergi. Istilah antihistamin dapat digunakan untuk menjelaskan antagonis histamin manapun, Terdapat empat tipe reseptor histamin, yaitu H1, H2, H3, dan H4 yang keempatnya memiliki fungsi dan distribusi yang berbeda. Dalam penggunaanya antihistamin H-2 pada penyakit alergi sangat terbatas.

Mekanisme Kerja

        Reseptor H2 ditemukan pada sel parietal mukosa lambung, otot polos, epitelium, endotelium, dan jantung. Histamin dapat meningkatkan sekresi asam lambung oleh sel parietal melalui reseptor H-2, bergabung dengan protein G mengaktifka adenil siklase menghasilkan AMP siklik. Dengan demikian antagonis reseptor H-2 (antihistamin H-2) dapat digunakan untuk mengurangi  sekresi asam lambung, serta dapat pula digunakan untuk menangani peptic culer dan penyakit refluks gastroesofagus.

 

Efek Samping

        Antihistamin H-2 lebih jarang menimbulkan efek samping, namun dilaporkan femotidin menimbulkan konstipasi, diare, dan gejala susunan saraf pusat yang ringan. Tidak memiliki efek samping antiandrogen atau gangguan endokrin serta sedikit sekali pengaruhnya terhadap hati.


Pertimbangan Klinis

Faktor yang harus diperhatikan dalam farmakologi klinis antagonis H2, yaitu:

  • Simetidin itu dikaitkan dengan lebih banyak efek samping dan interaksi obat dibandingkan dengan antagonis H2 yang lebih baru, seperti ranitidin.
  • Antagonis H2 tersebut memiliki onset kerja yang lebih cepat dibandingkan dengan inhibitor pompa proton. Ini mungkin berguna jika penekanan asam yang relatif segera dicari – misalnya, sebelum operasi untuk mencegah aspirasi asam ke saluran pernapasan.
  • Antagonis H2 itu dapat menutupi gejala kanker lambung. Pasien harus dimonitor untuk gejala serius seperti kesulitan menelan dan penurunan berat badan.
  • Karena farmakokinetik simetidin, meningkatkan risiko toksisitas bila diminum dengan obat-obatan seperti warfarin, fenitoin, kuinidin, TCA dan propranolol.
  • Dengan meningkatkan pH lambung, antagonis H2 dapat meningkatkan risiko mengembangkan kolitis Clostridium difficile.
  • Antagonis reseptor H2 diklasifikasikan sebagai kategori kehamilan B- yang berarti bahwa “tidak ada risiko dalam penelitian non-manusia”.

Sumber:

  • Faramakologi Obat Antagonis Reseptor H2 https://gudangilmu.farmasetika.com/farmakologi-obat-antagonis-reseptor-h2/
  • Soegijanto, S. 2016. Kumpulan Makalah Penyakit Tropis dan Infeksi Di Indonesia, Jilid 3, Airlangga University Press, Surabaya.
  • Tjay, T.H. dan K. Rahardja.2007. Obat-Obat Penting: Khasiat, Penggunaan, dan Efek-efek Sampingnya, Edisi 6, PT Elex Media Komputindo, Jakarta.
  • Zein, U. dan E.E. Newi. 2019. Buku Ajar Ilmu Kesehatan ,Deepublish, Sleman.

Jumat, 27 November 2020


 

HEMATOLOGI

 

    Hematologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari darah, organ pembentuk darah dan penyakitnya. Khususnya jumlah dan morfologi sel-sel darah, serta sumsum tulang. Darah adalah jaringan khusus yang berbeda dengan organ lain, karena berbentuk cairan. Jumlah darah dalam tubuh adalah 6-8% berat tubuh total. Empat puluh lima sampai 60% darah terdiri dari sel-sel, terutama eritrosit, leukosit dan trombosit. Fungsi utama darah adalah sebagai media transportasi, serta memelihara suhu tubuh dan keseimbangan cairan.

 

        Darah merupakan bagian dari tubuh yang berperan penting dalam mempertahankan kehidupan. Sebab, ia berfungsi sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Darah berbentuk cairan, sehingga dapat didistribusikan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah. Volume dalam tubuh bervariasi, pada orang dewasa volume darah sekitar 6 liter atau sekitar 7-8 % dari berat badan. Darah terdiri dari komponen berbentuk dan komponen plasma. Komponen berbentuk kurang lebih 45% (eritrosit, lekosit dan trombosit). Angka (45 ini dinyatakan dalam nilai hermatokrit atau volume sel darah merah yang dipadatkan yang berkisar antara 40 sampai 47.




    Pemeriksaan panel hematologi (hemogran) terdiri dari leukosit, eritrosit, hemoglobin, hematokrit, indeks eritrosit dan trombosit. Pemeriksaan hitung darah lengkap terdiri dari hemogram ditambah leukosit diferensial yang terdiri dari neutrofil (segmented dan bands), basofil, eosinofil, limfosit dan monosit.


    Rentang nilai normal hematologi bervariasi pada bayi, anak-anak dan remaja, umumnya lebih tinggi saat lahir dan menurun selama beberapa tahun kemudian. Nilai pada orang dewasa umumnya lebih tinggi dibandingkan tiga kelompok umur di atas. Pemeriksaan hemostatis dan koagulasi digunakan untuk mendiagnosa dan memantau pasien dengan pendarahan, gangguan pembekuan darah, cedera vaskuler atau trauma. 


Darah terdiri atas 2 komponen utama, yaitu sebagai berikut:



a.       Plasma Darah, bagian cair darah yang sebagia besar terdiri atas air, elektrolit dan protein darah.

b.      Butir-butir darah (blood corpuscles), yang terdiri atas komponen-komponen berikut ini :

·         Eritrosit yaitu sel darah merah (SDM-red blood cell )

·         Leukosit yaitu sel darah putih (SDP-white blood cell )

·         Trombosit yaitu butir pembeku darah-platelet

 

 

1.    Eritrosit


Eritrosit berbentuk bikonkaf dan berdiameter 7-8 mikron. Bentuk bikonkaf tersebut menyebabkan eritrosit bersifat fleksibel sehingga dapat melewati pembuluh darah yang sangat kecil dengan baik. Bentuk eritrosit pada mikroskop biasanya tampak bulat berwarna merah dan dibagian tengahnya tampak lebih pucat, atau disebut (central pallor) diameter 1/3 dari keseluruhan diameter eritrosit. Sel darah merah tidak memiliki inti sel, mitokondria dan ribosom, serta tidak dapat  bergerak. Sel ini tidak dapat melakukan mitosis, foforilasi oksidatif sel, atau pembentukan protein


2.    Leukosit


Leukosit atau sel darah putih merupakan salah satu bagian dari sistem imun yang dapat memberikan perlindungan tubuh dari patogen yang menyerang. Jumlah normal leukosit pada tubuh manusia adalah 4,5 – 10 juta/mm kubik tergantung dari kondisi fisiologis orang tersebut. Leukosit memiliki membran nukleus, akan tetapi tidak memiliki hemoglobin, ukurannya pun relatif besar dan jumlahnya lebih sedikit jika dibandingkan dengan sel darah merah.


3.    Trombosit


Trombosit merupakan komposisi darah yang sangat penting dalam proses pembekuan atau penggumpalan darah. Perlu diketahui bahwa jumlah normal trombosit yang ada dalam tubuh adalah 200.000-400.000/mm kubik. Dimana apabila kadar trombosit dalam tubuh dibawah normal, maka akan kesulitan dalam proses pembekuan darah.


 

DAFTAR PUSTAKA

Handayani, W dan A.S. Haribowo.2008.Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Hematologi.Salemba Medika, Jakarta.

Waterbury, L. 1998. Buku Saku Hematologi. EGC, Jakarta.


PERMASALAHAN

1. Apa saja yang dimodifikasi pada struktur histamin pada pengembangan obat antagonis-H2

2. Bagaimana cara kerja dari histamin antagonis-H2 dalam mengobati tukak lambung dan usus ?

3. Kapan aktivitas antihistamin akan mencapai efek optimal ?


Rabu, 18 November 2020


 

    Antihistamin adalah kelompok obat-obatan yang digunakan untuk mengobati reaksi alergi, seperti rinitis alergi, reaksi alergi akibat sengatan serangga, reaksi alergi makanan, urtikaria atau biduran Tidak hanya alergi, antihistamin juga kerap digunakan untuk mengatasi gejala mual atau muntah yang biasanya diakibatkan oleh mabuk kendaraan.

    Antihistamin bekerja dengan cara memblokir zat histamin yang diproduksi tubuh. Zat histamin, pada dasarnya berfungsi melawan virus atau bakteri yang masuk ke tubuh. Ketika histamin melakukan perlawanan, tubuh akan mengalami peradangan. Namun pada orang yang mengalami alergi, kinerja histamin menjadi kacau karena zat kimia ini tidak lagi bisa membedakan objek yang berbahaya dan objek yang tidak berbahaya bagi tubuh, misalnya debu, bulu binatang, atau makanan. Alhasil, tubuh tetap mengalami peradangan atau reaksi alergi ketika objek tidak berbahaya itu masuk ke tubuh.


Saat ini antihistamin ada 2 golongan yaitu generasi 1 dan 2

Perbedaan keduanya adalah:

Durasi aksinya :

1st generation = 4 to 6 hrs

2nd generation = up to 12 hrs


Efek-efek Antihistamain antara lain :


-Efek pada sistem kardiovaskuler

    Histamin menyebabkan penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik melalui vasodilatasi dan diikuti dengan mekanisme homeostasis berupa peningkatan denyut jantung.


-Efek pada saluran cerna

Pada dosis besar histamin dapat memacu sekresi asam lambung melalui aktivasi reseptor-H2.


-Efek pada bronkus dan otot polos organ lain

Histamin menyebabkan timbulnya bronkokontriksi


-Efek lain histamin

konstriksi otot polos mata, sal. Kemih, organ genital.


-Efek pada reseptor H1 dan pada ujung saraf  komponen penting dalam patofisiologi urtikaria,Pada jaringan sekretorik, memacu sekresi asam lambung, pepsin & faktor intrinsik melalui aktivasi reseptor H2  peningkatan cAMP intraseluler.


Histamines (H-1)


Histamin menyebabkan dilatasi pembuluh darah menjadi respon inflamasi

 Respon Inflamasi tersebut menjadi simptom alergi seperti hidung berair, gatal, mata berair, dan bersin.  


Antagonis reseptor H1


    Umumnya disebut obat antihistamin / antihistaminika ialah antagonis H1 yg beraksi melalui blokade reseptor histamin H1, sedangkan efeknya pada reseptor-H2 dan H3 dapat diabaikan.


Contoh obat: loratadin, terfenadin dan astemizol, efek mengantuk sangat lemah


Antagonis reseptor H2



dapat mengakibatkan timbulnya blood dyscrasia sebagai granulositopenia.

    Turunan ketiga dari imidazol, misalnya simetidin, tidak punya gugus tiourea, sehingga relatif tidak menimbulkan granulositopenia. Senyawa lain (ranitidin, oksmetidin, famotidin dan nizatidin) merupakan antagonis reseptor H2 baru yang lebih aman

    Antagonis reseptor-H2 dalam klinik digunakan pada terapi ulkus peptik, sindroma Zollinger-Ellison dan keadaan hiperasiditas.


Cara Pemberian Antihistamin : 

-Biasanya diberikan secara Oral, tetapi ada juga yang diinjeksikan terutama untuk pengobatan syok anafilaksis.

-Antihistamin juga digunakan dalam pengobatan mual dan muntah (cimetidin)


Efek samping  dari antihistamin :


-Keringnya membran mukus


-Stimulasi kardiak


-Penglihatan terganggu


-Retensi urin



DAFTAR PUSTAKA


Siswandono.2016.Kimia Medisinal Edisi Kedua. Airlangga University Press, Surabaya.

Tim MGMP Pati.2015.Farmakologi Jilid 3. Deepublish, Yogyakarta.



PERTANYAAN !



1. Apa peran histamin dalam tubuh !



2.Apa yang dimaksud dengan antihistaminika ?



3.Jelaskan secara singkat  biosintesis dari histamin !