Jumat, 11 Desember 2020

 Rheumatoid Arthritis


    

    merupakan penyakit Autoimun progresif dengan inflamasi kronik yang menyerang sistem muskuloskeletal namun dapat melibatkan organ dan sistem tubuh secara keseluruhan, yang ditandai dengan pembengkakan, nyeri sendi serta destruksi jaringan sinovial yang disertai gangguan pergerakan diikuti dengan kematian prematur.


Penyebab Rheumatoid Arthritis

    Rheumatoid Arthritis tergolong penyakit autoimun. Meski penyebab kondisi autoimun tersebut belum dapat diketahui secara pasti, namun diduga kondisi ini dapat terjadi karena faktor genetik.

    Penderita rheumatoid arthritis biasanya memiliki riwayat keluarga dengan penyakit yang sama. Di sisi lain, dokter juga menyangka faktor lingkungan atau paparan bahan kimia dapat memicu terjadinya kondisi ini


    Rheumatoid Arthritis seperti pada gambar diatas memiliki kemiripan seperti penyakit autoimun yang lain, predisposisi genetik dan faktor lingkungan berkontribusi dalam perkembangan, progresi, dan perjalanan kronis penyakit. Perubahan patologik dimediasi oleh antibodi terhadap antigen diri dan inflamasi yang disebabkan oleh sitokin, yang terutama disekresi oleh sel T CD4+. Sel T helper CD4+ (TH) dapat menginisiasi respons autoimun pada RA dengan bereaksi dengan suatu artritogen, yang dapat berupa mikrob atau antogen diri yang dimodifikasi secara kimiawi. Sel T memproduksi sitokin yang merangsang sel inflamatorik lain dan memberikan efek kerusakan jaringan. IFN-γ dari sel TH1 mengaktivasi makrofag dan sel sinovium.


    Penatalaksanaan pada Rheumatoid Arthritis (RA) mencakup terapi farmakologi, rehabilitasi dan pembedahan bila diperlukan, serta edukasi kepada pasien dan keluarga. Tujuan pengobatan adalah menghilangkan inflamasi, mencegah deformitas, mengembalikan fungsi sendi, dan mencegah destruksi jaringan lebih lanjut.

 

1. NSAID (Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drug) Diberikan sejak awal untuk menangani nyeri sendi akibat inflamasi. NSAID yang dapat diberikan atara lain: aspirin, ibuprofen, naproksen, piroksikam, dikofenak, dan sebagainya. Namun NSAID tidak melindungi kerusakan tulang rawan sendi dan tulang dari proses destruksi. 

 

2. DMARD (Disease-Modifying Antirheumatic Drug) Digunakan untuk melindungi sendi (tulang dan kartilago) dari proses destruksi oleh Rheumatoid Arthritis. Contoh obat DMARD yaitu: hidroksiklorokuin, metotreksat, sulfasalazine, penisilamin, dan asatioprin. DMARD dapat diberikan tunggal maupun kombinasi 

 

3. Kortikosteroid Diberikan kortikosteroid dosis rendah setara prednison 5-7,5 mg/hari sebagai “bridge” terapi untuk mengurangi keluhan pasien sambil menunggu efek DMARDs yang baru muncul setelah 4 -16 minggu. 

 

4. Rehabilitasi Terapi ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Caranya dapat dengan mengistirahatkan sendi yang terlibat melalui : pemakaian tongkat, pemasangan bidai, latihan, dan sebagainya. Setelah nyeri berkurang, dapat mulai dilakukan fisioterapi. 

 

5. Pembedahan Jika segala pengobatan di atas tidak memberikan hasil yang diharapkan, maka dapat dipertimbangkan pembedahan yang bersifat ortopedi, contohnya sinovektomi, arthrodesis, total hip replacement, dan sebagainya.

 

DMARD untuk terapi RA :

  • Sulfasalazin 1-2 bulan 1x500mg/hari/intra oseus (i.o) ditingkatkan setiap minggu hingga 4x500mg/hari Digunakan sebagai lini pertama 
  • Metotreksat 1-2 bulan Dosis awal 7,5-10 mg/ minggu/intra vena (i.v) atau peroral 12,5- 17,5mg/minggu dalam 8-12 minggu Diberikan pada kasus lanjut dan berat. Efek samping: rentan infeksi, intoleransi GIT, gangguan fungsi hati dan hematologik 
  • Hidroksiklorokuin 2-4 bulan 400 mg/hari Efek samping: penurunan tajam penglihatan, mual, diare, anemia hemolitik
  •  Azhatioprine 2-3 bulan 50-150 mg/hari Efek samping: gangguan hati, gejala GIT, peningkatan TFH
  •  D-penisilamin 3-6 bulan 250-750mg/hari Efek samping: stomatitis, proteinuria, ruam.

PERTANYAAN :


1.Keterbatasan Fungsi Fisik pada Penderita Rematik ?


2. PEMERIKSAAN PENUNJANG PADA PENYAKIT REMATIK ?


3.Adakah kaitan antara kebiasaan TN X mengkonsumsi emping dan jerohan dalam memicu penyakit tersebut? Kalau ya ... jelaskan!




Daftar Pustaka :


Hayes, P.C dan T.W. Mackay. 1997. Buku Saku Diagnosis dan Terapi. Jakarta, Buku Kedokteran EGC.

 

Neal, M. J. 2012. Medical Pharmacology at a Glance Seventh Edition. USA, John Wiley and Sons Publishing.











8 komentar:

  1. keren sekali blog nya zak,, singkat padat dan jelas. memudahkan pembaca dalam memahami materi mengenai rheumatoid ini. sebelumnya saya izin mencoba menjawab pertanyaan nomor 2.
    nomor 2 mengenai pemeriksaan penunjang penyakit rematik. dari sumber yang saya baca, dijelaskan bahwa ada beberapa pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan, yaitu seperti :
    1.tes faktor reumatoid positif, antinuclear antibody (ANA), positif berkmakna pada sebagian penderita.
    2. LED naik pada penyakit aktif : umumnya meningkat pesat (80-100 mm/h) mungkin kembali normal sewaktu gejala-gejala meningkat; anemia;albumin srum rendah dan fosfotase alkali meningkat.
    3. Rontgen menunjukkan erosi terutama pada sendi-sendi tangan, kaki dan pergelangan pada stadium dini; kemudian pada tiap sendi.
    4. kelainan destruktif yang progresif pada sendi dan disorganisasi pada penyakit yang berat.
    5. kadar asam urat lebih dari 7 mg/dl.
    mungkin hanya itu jawaban dari saya, semoga bisa membantu. terima kasih ;)

    BalasHapus
  2. Hai zak, izin mencoba menjawab pertanyaan no. 1 mengenai keterbatasan fisik pada penderita rematik, yaitu :
    Menurut Purwoastuti (2009), Seseorang yang mengalami rematik akan mengalami beberapa
    gejala yang dapat mengganggu aktivitas fisiknya, yakni berupa nyeri sendi, inflamasi, kekakuan sendi pada pagi hari, hambatan gerak persendian.
    Ketidakmampuan fisik ini akan menyebabkan tubuh tidak berfungsi secara normal.

    Terimakasih, semoga dapat membantu

    BalasHapus
  3. Terimakasih banyak atas ilmunya, artikelnya sangat bermanfaat 🙏🏻

    BalasHapus
  4. Ilmu yang sangat mantab hyung

    BalasHapus
  5. Gas terus oom, bermanfaat sekali

    BalasHapus