Rheumatoid Arthritis
merupakan penyakit Autoimun progresif dengan inflamasi
kronik yang menyerang sistem muskuloskeletal namun dapat melibatkan organ dan
sistem tubuh secara keseluruhan, yang ditandai dengan pembengkakan, nyeri sendi
serta destruksi jaringan sinovial yang disertai gangguan pergerakan diikuti
dengan kematian prematur.
Penyebab Rheumatoid Arthritis
Rheumatoid Arthritis
tergolong penyakit autoimun. Meski penyebab kondisi autoimun tersebut belum
dapat diketahui secara pasti, namun diduga kondisi ini dapat terjadi karena
faktor genetik.
Penderita rheumatoid
arthritis biasanya memiliki riwayat keluarga dengan penyakit yang sama. Di
sisi lain, dokter juga menyangka faktor lingkungan atau paparan bahan kimia
dapat memicu terjadinya kondisi ini
Rheumatoid Arthritis
seperti pada gambar diatas memiliki kemiripan seperti penyakit autoimun yang
lain, predisposisi genetik dan faktor lingkungan berkontribusi dalam
perkembangan, progresi, dan perjalanan kronis penyakit. Perubahan patologik
dimediasi oleh antibodi terhadap antigen diri dan inflamasi yang disebabkan
oleh sitokin, yang terutama disekresi oleh sel T CD4+. Sel T helper CD4+ (TH)
dapat menginisiasi respons autoimun pada RA dengan bereaksi dengan suatu
artritogen, yang dapat berupa mikrob atau antogen diri yang dimodifikasi secara
kimiawi. Sel T memproduksi sitokin yang merangsang sel inflamatorik lain dan
memberikan efek kerusakan jaringan. IFN-γ dari sel TH1 mengaktivasi makrofag
dan sel sinovium.
Penatalaksanaan pada
Rheumatoid Arthritis (RA) mencakup terapi farmakologi, rehabilitasi dan
pembedahan bila diperlukan, serta edukasi kepada pasien dan keluarga. Tujuan
pengobatan adalah menghilangkan inflamasi, mencegah deformitas, mengembalikan
fungsi sendi, dan mencegah destruksi jaringan lebih lanjut.
1. NSAID
(Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drug) Diberikan sejak awal untuk menangani
nyeri sendi akibat inflamasi. NSAID yang dapat diberikan atara lain: aspirin,
ibuprofen, naproksen, piroksikam, dikofenak, dan sebagainya. Namun NSAID tidak
melindungi kerusakan tulang rawan sendi dan tulang dari proses destruksi.
2. DMARD
(Disease-Modifying Antirheumatic Drug) Digunakan untuk melindungi sendi (tulang
dan kartilago) dari proses destruksi oleh Rheumatoid Arthritis. Contoh obat
DMARD yaitu: hidroksiklorokuin, metotreksat, sulfasalazine, penisilamin, dan
asatioprin. DMARD dapat diberikan tunggal maupun kombinasi
3. Kortikosteroid
Diberikan kortikosteroid dosis rendah setara prednison 5-7,5 mg/hari sebagai
“bridge” terapi untuk mengurangi keluhan pasien sambil menunggu efek DMARDs
yang baru muncul setelah 4 -16 minggu.
4. Rehabilitasi
Terapi ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Caranya dapat
dengan mengistirahatkan sendi yang terlibat melalui : pemakaian tongkat,
pemasangan bidai, latihan, dan sebagainya. Setelah nyeri berkurang, dapat mulai
dilakukan fisioterapi.
5. Pembedahan Jika
segala pengobatan di atas tidak memberikan hasil yang diharapkan, maka dapat
dipertimbangkan pembedahan yang bersifat ortopedi, contohnya sinovektomi,
arthrodesis, total hip replacement, dan sebagainya.
DMARD untuk terapi
RA :
- Sulfasalazin 1-2 bulan
1x500mg/hari/intra oseus (i.o) ditingkatkan setiap minggu hingga
4x500mg/hari Digunakan sebagai lini pertama
- Metotreksat 1-2 bulan Dosis awal 7,5-10
mg/ minggu/intra vena (i.v) atau peroral 12,5- 17,5mg/minggu dalam 8-12
minggu Diberikan pada kasus lanjut dan berat. Efek samping: rentan
infeksi, intoleransi GIT, gangguan fungsi hati dan hematologik
- Hidroksiklorokuin 2-4 bulan 400 mg/hari
Efek samping: penurunan tajam penglihatan, mual, diare, anemia hemolitik
- Azhatioprine 2-3 bulan 50-150
mg/hari Efek samping: gangguan hati, gejala GIT, peningkatan TFH
- D-penisilamin 3-6 bulan
250-750mg/hari Efek samping: stomatitis, proteinuria, ruam.
Hayes, P.C dan T.W. Mackay. 1997. Buku Saku
Diagnosis dan Terapi. Jakarta, Buku Kedokteran EGC.
Neal, M. J. 2012. Medical Pharmacology at a Glance Seventh
Edition. USA, John Wiley and Sons Publishing.


